Teknik Sipil UB Juarai Lomba Desain Breakwater DEDIKASI 2016

Tim Treize dari Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya berhasil menyabet Juara Harapan I pada kompetisi Desain Pemecah Gelombang DEDIKASI 2016 yang diselenggarakan oleh Universitas Hasanuddin (UNHAS) pada 24-27 Oktober 2016. DEDIKASI 2016 merupakan ajang kompetisi yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sipil Universitas Hasanuddin dengan menitik beratkan pada perkembangan infrastruktur dan peningkatan kualitas calon engineer. Kompetisi yang dilakukan pada ajang ini antara lain perlombaan perancangan Pemecah Gelombang/Breakwater, LKTI, Seminar, Pelatihan dan Fotografi.
Lomba Breakwater ini diikuti oleh 10 tim yang berasal dari berbagai Universitas di Indonesia. Antara lain Universitas Hasanuddin, Institut Teknologi Bandung, Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh November, Institut Teknologi Nasional, Universitas Palangkaraya, Universitas Udayana. Universitas Brawijaya sendiri mengirimkan 2 tim pada ajang lomba ini yaitu tim yang berasal dari Teknik Sipil (Treize Team) dan Teknik Pengairan (Bangunan Pantai 64).
Tahapan awal mengikuti lomba ini adalah dengan pembuatan proposal yang menjelaskan rancangan dari breakwater itu sendiri. Proposal ini kemudian diseleksi dan di umumkan 10 peserta finalis Lomba Pemecah Gelombang Metode Tiang Pancang yang Aplikatif, Inovatif dan Efisien. Setelah dinyatakan lolos Tim Treize membuat prototype pemecah gelombang dengan waktu sekitar 1-2 minggu. ANS Breakwater merupakan model Pemecah Gelombang yang dimiliki oleh 3 mahasiswa Universitas Brawijaya yaitu Ayu Febrianti, Nida Rahmayani, dan Salwa Saputri serta Dr. Eng. Alwafi Pujiraharjo, ST, MT selaku dosen pembimbing.
“ANS Breakwater disusun menggunakan material beton dan pipa sebagai tiang pancang.”, pungkas ayu. Desain breakwater ini disesuaikan dengan tema Lomba yaitu menggunakan Metode Tiang Pancang yang berfungsi sebagai pemecah gelombang utama atau sebagai pengikat segmen-segmen kecil dari pemecah gelombang.
“Pembuatan prototype menjadi salah satu kendala yang kami hadapi. Karena waktu yang tersedia cukup singkat. Pengangkutannya juga lumayan susah karena jarak dari sini (Malang) ke Makassar sangat jauh”, ujar Ayu. (red/Rahmi)

Leave a Reply