Browsed by
Month: July 2012

Seminar Nasional “Peran Kolaboratif Ilmuwan di Dalam dan Luar Negeri dalam Pembangunan Bangsa Indonesia”

Seminar Nasional “Peran Kolaboratif Ilmuwan di Dalam dan Luar Negeri dalam Pembangunan Bangsa Indonesia”

Indonesia adalah negara besar, namun dalam perjalanannya banyak menemukan tantangan. Darmawan Prasodjo, PhD menyampaikan, untuk menghadapi tantangan tersebut dibutuhkan strategi. Energy Economist dari Nicholas Institute for Environmental Policy Solutions Duke University mempresentasikan hal ini dihadapan peserta seminar nasional “Peranan Kolaboratif Ilmuwan di Dalam dan Luar Negeri dalam Pembangunan Bangsa Indonesia”. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) pada Senin (16/7) di Gedung Dekanat Fakultas Teknik Lantai dua. Presentasi pria kelahiran Magelang yang sejak 1994 hijrah ke Texas Amerika serikat ini berjudul “Challenges, Strategies and Opportunity Indonesia Sustainable Development in New Era of Global Development”.

“Banyak pakar beranggapan, berbagai kerusuhan yang terjadi di Indonesia pasca runtuhnya Orde baru akan berdampak pada disintegrasi dan itu hanya menunggu waktu saja,” kata Darmawan. Tercatat berbagai kerusuhan seperti separatisme di Aceh dan Papua, kekerasan berbau SARA di Maluku, Kalimantan dan Sulawesi serta berbagai aksi pengeboman, bergejolak di Indonesia pada masa tersebut.

Tapi apa yang terjadi? Indonesia terbukti bisa mengatasi masalahnya sendiri. Mantan aktivis Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Irwandi Yusuf, bahkan terpilih menjadi Gubernur di Aceh. Dengan kedewasaan yang dihasilkan dari berbagai permasalahan tersebut, Indonesia tidak goyah sama sekali ketika kawasan Timur Tengah diguncang Arab Spring seperti Tunisia, Yordania, Libya, Mesir dan termasuk turbulensi yang tengah dialami Malaysia.

Namun, tantangan tersebut hingga kini belum selesai. Diantara yang disampaikannya adalah tiga kekuatan baru perekonomian Indonesia, Manajemen Kelistrikan yang tidak menentu, keamanan energi serta kebangkitan Pertamina.

Ketiga kekuatan ekonomi baru tersebut adalah kelapa sawit, batubara dan tenaga kerja. Sebagai bahan bakar baru dan terbarukan, kelapa sawit menjadi alternative ditengah kelangkaan minyak bumi. Saat ini kelapa sawiit dituntut mampu meningkatkan produksinya hingga dua kali lipat dari produksi aktual sekarang yakni 20 juta ton/tahun. Strategi yang dapat ditempuh, dengan meningkatkan intensitas produksi per hektar menjadi dua kali lipat dari 3 ton/ha. Ekspansi, menurutnya jangan sampai dilakukan dengan merambah hutan tropis tetapi cukup memanfaatkan tanah-tanah yang sudah rusak.

Walaupun Indonesia punya banyak potensi energi baru seperti geothermal dan batubara, tetapi Indonesia tampaknya belum berminat mengoptimalkannya. Dari sisi biaya produksi misalnya, ia menggambarkan bahwa total biaya produksi batubara lebih rendah yakni 5 sen/kwh, jauh dibanding minyak bumi yang mencapai 30 sen/kwh. Melalui video conference dari Amerika Serikat, ia menyampaikan bahwa Indonesia kurang responsive terhadap fluktuasi harga minyak. Bukan hanya itu, pemanfaatan minyak bumi juga telah membebani APBN sebesar 223 triliun atau sekitar seperlima dari total APBN. “Indonesia perlu segera merubah basis energi ke arah batubara dan panas bumi,” tandasnya.

Tingginya kebutuhan energi tanpa diimbangi produksi menyebabkan Indonesia menghadapi tantangan keamanan energi. Pada 2008, Indonesia resmi menduduki posisi sebagai net-importir setelah beberapa lama sebelumnya menjadi eksportir. Dengan cadangan sebesar 3.9 billion barrel, diperkirakan minyak Indonesia akan habis pada 9 tahun mendatang jika produksi per hari tetap pada 9000 barrel. Selama proses produksinya, Indonesia memiliki tiga kendala utama yakni modal, teknologi dan tenaga ahli. “Kendala ini kemudian ditutup perusahaan multinasional,” katanya. Dari 128 cekungan yang ada di Indonesia, menurutnya baru 38 diantaranya yang dieksplorasi. Dengan perbaikan manajemen, Darmawan menyarankan agar Indonesia mampu merubah potensi yang dimiliki menjadi peluang. “Jangan sampai cadangan minyak menipis tetapi produksi jalan terus,” ia menambahkan.

Pertamina Sehat, Petronas Lebih Sehat

Pada 2011, pihaknya mencatat kenaikan pendapatan Pertamina yang mencapai Rp. 2.2 triliun, naik 40 persen dari tahun sebelumnya. “Ini merupakan salah satu indikator bahwa Pertamina sehat,” katanya. Tetapi pada saat yang sama, Petronas dan Petrobras jauh lebih sehat dengan total pendapatan mencapai 7 kali lipat pendapatan yang diperoleh Pertamina.

Sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945, Pertamina menurutnya merupakan kepanjangan tangan Pemerintah untuk kesejahteraan rakyat. Tapi sayangnya, ada kesalahan dalam manajemen sumber daya (capital management). Dengan menganalisis keduanya, ia menyebut perlunya Pertamina melakukan perbaikan strategi dalam mengelola sumber daya. Salah satu yang disarankannya adalah terkait growth oriented. Yang terjadi di Pertamina, 95 persen keuntungan diambil oleh Pemerintah dan Pertamina hanya memperoleh 4.5 persen saja. Di Petronas, dukungan pemerintah Malaysia dinilainya sangat tinggi, diantaranya dengan menyerahkan 70 persen keuntungan kepada Petronas langsung.

Kekurangan tiga sumber daya utama yakni capital, teknologi dan tenaga ahli menjadikan Pertamina kesulitan untuk mengeksplorasi 5000 sumur dan lima lapangan minyak yang dimilikinya. Dengan perhatian serius pada ketiga input tersebut diimbangi corporate culture yang sehat, Darmawan memprediksi Pertamina akan mampu menaikkan pendapatannya dua hingga tiga kali lipat. Kesuksesan Pertamina dalam melakukan ekspansi pasar untuk produk oli ke berbagai negara yakni Korea, China, Australia, Bangladesh dan Nepal merupakan salah satu gebrakan menuju internasionalisasi. Ekspansi lain yang tengah dilakukan adalah mengambil alih sumber minyak internasional di Irak.

Guru Global

Kandidat PhD di Michigan State University (MSU), Dwi Agus Yuliantoro menjadi pembicara selanjutnya dalam seminar nasional ini. Ia membagi pengalamannya terkait aktivitas yang dilakukannya di “The Global Cohort Educator Program at Michigan State University”. “Saya lebih menyukai istilah guru global daripada guru internasional,” kata Agus diawal presentasi. Menurutnya terminologi guru global lebih menggambarkan wawasan dan karakter global seorang guru yang bisa saja dia beraktivitas di wilayah domestik suatu negara dan bukan hanya di luar negeri. Sementara guru internasional, menurutnya lebih identik dengan penempatan seorang guru di sekolah-sekolah dengan “embel-embel” internasional. Seorang guru global, menurut Agus menyajikan perspektif global di dalam kelas. Dari pengalamannya bersama mahasiswa lain, tantangan yang dimiliki untuk terjun dalam globalisasi adalah global citizenship, adaptability, teamwork, intelligence dan motivasi.

Fenomena “salah kaprah” dalam memahami internasionalisasi dipaparkan oleh Rektor Universitas Yudharta Pasuruan, Dr. Saifulah, M.HI. “Dalam konteks internasionalisasi, lebih banyak yang berpihak kepada negeri orang lain daripada negerinya sendiri,” kata dia. Pengeboman yang marak terjadi beberapa waktu lalu, menurutnya merupakan hasil pemaknaan yang salah dari nilai-nilai keislaman. Dalam konteks Indonesia, Saifulah lebih menekankan pentingnya memahami “Islam Nusantara” yang lebih sesuai dengan kondisi yang ada.

Pembicara lain yang hadir dalam kesempatan tersebut adalah Ir. Achmad Wicaksono M.Eng, Ph.D (dosen Teknik Sipil UB), Dr. Mulyoto Pangestu (peraih penghargaan Young Inventor Award), Iwan Setyawan (Penulis “9 Summers 10 Autumn dan Ibuk”) serta Achmad Aditya (Sekjen Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional 2009-2011).

Wisuda Ex.Pimred StruktuR Edisi X

Wisuda Ex.Pimred StruktuR Edisi X

14 Juli 2012, Merupakan hari yang menggembirakan bagi seluruh redaksi LPM StruktuR.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, awan pun enggan meninggalkan langit kota Malang. Suasana yang cukup tenang untuk memulai sebuah aktifitas. Terlihat hiruk-pikuk manusia di sekitar gedung dekanat Fakultas Teknik Univ. Brawijaya.

Haru dan gembira bercampur menjadi satu, itulah yang terpancar dari wajah orang-orang disekitar gedung utama administrasi Fakultas Teknik Univ. Brawijaya. Gelar sarjana teknik disematkan kepada ratusan mahasiswa Fakultas Teknik yang telah menanti momen ini selama beberapa tahun.

Disela-sela acara terlihat sosok yang tidak asing dimata redaksi LPM StruktuR. Dwi Ratna, salah satu penggiat majalah StruktuR ini menjadi salah satu bagian dari peserta acara tersebut. Ia menjadi salah satu mahasiswa yang memperoleh gelar sarjana teknik dengan predikat cumlaude.

Lulus 3,5 tahun dengan nilai Indek Prestasi yang tinggi ternyata bukan lagi menjadi mimpi bagi mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Univ. Brawijaya. Terbukti dengan disematkannya gelar sarjana teknik kepada tujuh orang mahasiswa yang telahmenyelesaikan masa studi hanya dalam waktu 3,5

tahun, salah satunya yakni

Dwi Ratna (ex. Pimred StruktuR)

Ratna membuktikan bahwa kesenangannya dalam dunia organisasi bukanlah merupakan penghalang baginya untuk tetap bisa meraih predikat cumlaude.mantan Pemimpin Redaksi (PIMRED) LPM StruktuR.

dengan berorganisasi kita akan memperoleh softskill yang tentunya juga akan berguna untuk menunjang akademis kita“, ujarnya.

kita lebih bisa memanage waktu, menata skala prioritas atas tugas-tugas yang berdatangan, serta menjadikan kita faham atas kapasitas diri sendiri“, tambahnya ketika ditemui disela-sela acara wisuda kemarin.

Semoga perjalanan studi yang telah dilalui Ratna dapat menginspirasi kita semua. (Red/Yoga)